Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pendapatan domestik bruto (PDB) per kapita 2013 mencapai Rp 36,5 juta. Kepala BPS Suryamin menuturkan, ada laju peningkatan sebesar 8,88 persen dibanding PDB per kapita tahun 2012 yang sebesar Rp 33,5 juta.
Suryamin menjelaskan, kenaikan ini disebabkan realisasi PDB Indonesia sepanjang 2013 yang mengalami peningkatan. "Hal ini meningkatkan PDB per kapita kita pada tahun lalu menjadi Rp 36,5 juta. Sedangkan di 2012 dan 2011, realisasi PDB per kapita masing-masing sebesar Rp 33,5 juta dan Rp 30,7 juta," kata dia di Kantor BPS, Jakarta, Rabu (5/2/2014).
Sepanjang 2013, PDB Indonesia tercatat sebesar Rp 9.084 triliun Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB). Sedangkan PDB Atas Dasar Harga Konstan (tahun 2000) adalah Rp 2.770,3 triliun. Untuk kuartal-IV 2013 sendiri PDB ADHB sebesar Rp 2.367,9 triliun, dan ADHK sebesar Rp 699,9 triliun. Angka ini naik dibanding kuartal-IV 2012, di mana PDB ADHB sebesar Rp 2.092,4 triliun dan ADHK sebesar Rp 662,1 triliun.
Suryamin menyebut, kenaikan PDB ini menyumbang peningkatan pendapatan per kapita. Namun, jika diukur dengan dollar AS, maka PDB terlihat mengalami penurunan. "Memang ada penurunan kalau dihitung pakai dollar AS, karena ada pelemahan nilai tukar rupiah," kata Suryamin.
Sepanjang 2013, PDB per kapita orang Indonesia sebesar 3.499,9 dollar AS. Sedangkan pada 2012 mencapai 3.583,2 dollar AS, dan pada 2011 sebesar 3.525,2 dollar AS.
Di sisi lain, Produk Nasional Bruto (PNB) AHDB pada 2013 sebesar 3.391,6 dollar AS atau Rp 35,4 juta. Angka ini naik 8,72 persen dibanding realisasi 2012 yang sebesar Rp 32,5 juta.
B.MALAYSIA
Menelusuri negara tetangga yang satu ini , telah lama menjadi pesaing berat negara Indonesia, menurut database diatas perhitungan GNP, Malaysia terhadap Indonesia jauh berbanding, jika kita mengacu pada US$, Indonesia hanya mampu meraih pendapatan per-kapita dalam tahun 2013 sebesar $ 4,380, hal ini jauh jika kita melihat GNP malaysia yaitu sebesar $14,603.
C. ANALISIS
Jika kita menganalisis, ratio, Indonesia terhadap Malaysia jelas berbeda jauh, jika memandang dari kesejahteraan masyarakat, jelas Malaysia lebih makmur karena pendapatan Malaysia lebih besar dengan jumlah populasi lebih kecil deibandingkan dengan negara Indonesia.
hal ini juga dipandang karena Malaysia sudah mampu menaikan nilai mata uang terhadap pengaruh inflasi dan deflasi, namun Indonesia yang sedang giat membangun belum mampu mencapai nilai intrinstik uang seperti halnya Malaysia, jadi sangatlah wajar jika populasi Malaysia dalam keadaan makmur, karena dengan nilai ringgit yang cukup tinggi masyarakat Malaysia umumnya bisa mengkonsumsi komoditas Indonesia dengan harga yang murah karena nilai intrinstik tersebut, Mengapa demikian ?.
karena jika Indonesia menaikan nilai intrinstik , kita asumsikan nilai mata uang Indonesia kita naikan sebanding dengan negara Malaysia , jelas pada saat itu juga Indonesia akan kehilangan surplus pendapatan, karena Indonesia belum mempunyai tekhnologi sebanding dengan Malaysia, yang artinya komoditas dengan level endah jika dinaikan harganya maka penawaran akan menurun drastis karena mereka para konsumen berfikir untuk komoditas yang kualitasnya juga belum tentu baik dengan harga yang tinggi, tentu saja terlalu tinggi harganya, itu sebabnya jika Indonesia mengalami deflasi, maka nilai surplus tadi akan diturunkan dengan mengalokasikannya ke sektor yang lain agar surplus tadi bisa menjadi pengeluaran, dan nilai uang mencapai titik keseimbangan agar pendapatan untuk tahun berikutnya Indonesia tidak mengalami inflasi.
Indonesia bisa mencapai kemakmuran seperti halnya Malaysia jika ,ketimpangan produksi Indonesia dicampurkan dengan cara memodernisasi sektor yang ada, agar kedepannya, kualitaslah yang diutamakan.
REFERENSI:
1.www.beritakaget.com/.../pendapatan-perkapita-malaysia-tahun-2013.htm.
2.https://id.answers.yahoo.com/question/index?qid
3.www.investor.co.id/home/malaysia-jadi-negara-maju...ri-baru.../73738
4.m.kompasiana.com/post/read/401471/1



ka foto nya kalo d save ko blur ya
BalasHapus