Indonesia merupakan merupakan negara yang mempunyai SDM,SDA,yang sangat membangggakan, namun hal yang sangat mengecewakan adalah, kemampuan menejemen serta hilangnya SDM Indonesia yang memang berkualitas serta berwawsan , mereka lebih memilih memajukan bangsa lain dengan lantaran gaji yang diberikan dari pada harus mengabdi terhadap negara sendiri.
Indonesia mempunyai populasi tinggi, namun SDM Indonesia hanya dikendalikan oleh perusahaan - perusahaan asing, padahal jika kita melihat dari aspek harta , Indonesia mempunyai harta yang berlimpah, namun tidak banyak dari mereka memahami hal ini, dan mau untuk memulai mendirikan bangsa.
Assets sumber daya alam Indonesia yang tidak terolah dengan sempurna membuat Indonesia sulit untuk berkembang menjadi negara maju, jika Indonesia mau memfokuskan diri terhadap assets ini, saya sendiri sebagi penulis yakin dalam rentang yang tidak terlalu lama Indonesia sudah mampu menjadi negara maju dan menjadi negara induk peng-ekspor bahan pangan, maupun hasil alam lainnya.
Hal inilah yang harus kita perhatikan bersama, penulis sendiri menerapkan suatu konsep , " jangan melihat burung garuda itu secara fisiknya, tapi lihatlah apa yang mampu ia berikan di setiap kepakan sayapnya"
kata-kata ini bermakna jangan pernah melihat bangsa Indonesia dari segi korupsi, maraknya perbuatan nonasusila, dll, tapi lihatlat apa yang diberikan Indonesia untuk setiap tanahnya, kita bisa melihat aspek yang sangat bermanfaat, tanah yang subur, nuansa alam yang indah, dll.
Pemikiran Penulis Untuk Bisa membangun Bangsa Ini Menjadi lebih baik:
- Pemanfaatan Assets vital Indonesia secara optimal.
- pembuatan struktur aliran yang menjelaskan target pencapaian.
- kesinergian antara satu dengan lainya , baik secara vertikal maupun horizontal
- Pemanfaatan Assets vital Indonesia secara optimal.
Pemanfaatan sumberdaya alam secara optimal , akan memberikan nilai intrinstik tersendiri terhadap negara Indonesia yang akan menjadi kekuatan Indonesia untuk menjadi negara maju, mungkin kita akan mengkritik, tekhnologi Indonesia belum memumpuni untuk hal semacam ini, jelas penulis sendiri membantah "salah ", Indonesia sudah memumpuni, namun terkadang riset&pengembangan Indonesia yang kurang mmenjalani tugas secara effesien, dalam hal ini yang dibutuhkan adalah, sistem menejemen Indonesia yang harus dibenahkan, untuk bisa mencapai program ini dengan baik, serta kepercayaan masyarakat yang harus dibangun sejak dini, agar mampu memberikan sinergi yang positif, dan mau untuk bekerjasama membangun bangsa ini, seperti pengadaan sosialisasi tentang bahayanya sistem monopoli, yang hanya memberikan manfaat jangka pendek, dengan adanya sosialisasi secara optimal, informasi yang diterima masyarakat-pun akan membuahkan hasil yang cukup efectif, mungkin dari segi biaya cukup besar, namun dengan pengendalian menejemen yang effetif, hal ini mampu ditunjang dengan baik, seperti pendirian lembaga, yang mengontrol masyarakat serta memberikan informasi yang cukup memadai untuk sekala per-geografis.
- pembuatan struktur aliran yang menjelaskan target pencapaian. Program ke-2, lebih mengacu pada kejelasan suatu pencapaian target , kita asumsikan Indonesia ingin memperbesar fungsi export dari pada impor dalam bidang bahan mentah/ hasil alam, (terlepas kebutuhan dalam negeri /domestik), Pemerintah harus mampu memberikan suatu aliran product yang, jelas, sehingga pencapaian target dari bawahan-pun mudah dikolaborasikan dengan baik, sehingga, jika Indonesia menargetkan pencapaian suatu laba, dengan adanya sinergi yang baik antara petani dan pemerintah sebagai pengendali, maka prencanaan tersebut akan tercapai dengan baik, dan jika, hal ini tidak membuahkan hasil, kita bisa mengetahui dimana letak hambatan tersebut, sehingga bisa diatasi dengan sesegera mungkin.
- kesinergian antara satu dengan lainya , baik secara vertikal maupun horizontal.
Program yang ke-3 , program inilah kunci dari kesuksesan suatu negara dalam membangun negaranya sendiri, adanya sinergi antar pemerintah dengan masyarakat akan menjadikan jembatan penghubung suatu target, tanpa adanya ini, perencaan-pun tidak akan berjalan secara effesien.
Referensi:
1. Pemikiran krisis penulis secara mengglobal













